Tuesday, February 15, 2011

Writing: Proses dalam Menulis

Seorang blogger mungkin lebih mengerti tentang kegiatan tulis menulis, mereka paling memahaminya karena terlalu sering menghadapi kendala dengan kegiatan yang satu ini. Namun begitu, terkadang kaum terpelajar seperti mahasiswa dan sekumpulan makhluk akademis lainnya merasa sulit dalam merealisasikan kegiatan tersebut, khususnya menulis tulisan formal seperti skripsi, laporan, makalah, disertasi, tesis dan lain sejenisnya. Memang harus diakui menulis skripsi jelas sangat berbeda dengan menulis posting di blog. Dalam menulis skripsi banyak sekali aturan, salah ukuran kertas hingga salah titik koma saja harus direvisi apalagi salah dalam pemilihan kata dan teknik penulisannya, benar-benar kegiatan yang membosankan. Berbeda lagi dengan menulis posting di blog, kita bisa saja melanggar aturan tersebut karena memang tidak ada aturannya. Seorang blogger bisa dengan leluasa menambahkan emoticons, gambar binatang, foto-foto aneh dari foto tong sampah sampe foto pak lurah atau bahkan gambar xxx18 yang serba lucah juga bisa, suatu yang sangat mustahil dalam menulis skripsi—namun bagi blogger tentu itu hal yang sangat menyenangkan bukan? Meskipun begitu pada dasarnya menulis itu mempunyai proses yang sama meskipun hasilnya jelas berbeda. Disini saya coba kutipkan pendapat tentang proses dalam menulis yang diungkapkan oleh Kane (2000:17-18):

Writing in its broad sense—as distinct from simply putting words on paper—has three steps: thinking about it, doing it, and doing it again (and again and again, as often as time will allow and patience will endure).

Menulis umumnya—berbeda dengan hanya meletakkan kata-kata diatas kertas—mempunyai tiga step: Pertama, berpikiri tentang tulisan tersebut, kedua menuliskannya, dan ketiga menuliskannya lagi dan lagi sesering waktu mengizinkan dan kesabaran berlanjut.


The first step, "thinking," involves choosing a subject, exploring ways of developing it, and devising strategies of organization and style. The second step, "doing," is usually called "drafting"; and the third, "doing again," is "revising."

Langkah pertama, ‘berpikir’, meliputi memilih sebuah topik, mengeksplorasi cara mengembangkannya dan merencanakan stategi penyusunan dan gaya bahasanya.

Langkah kedua, ‘menuliskannya’ biasanya disebut ‘drafting’ atau dalam bahasa Indonesia penyusunan.

Langkah ketiga, ‘menuliskannya kembali’ biasanya disebut ‘revisi’ atau koreksi lagi dan lagi terus diperbaiki.

First a warning. They're not really "steps," not in the usual sense anyway. You don't write by (1) doing all your thinking, (2) finishing a draft, and then (3) completing a revision. Actually you do all these things at once.

Peringatan: ketiga hal tersebut sebenarnya bukanlah urutan langkah ataupun proses dalam menulis. Jangan melakukan ketiga step tadi karena sebenarnya yang harus anda lakukan adalah mengerjakkannya secara bersamaan.

If that sounds mysterious, it's because writing is a complex activity. As you think about a topic you are already beginning to select words and construct sentences—in other words, to draft. As you draft and as you revise, the thinking goes on.

Jika hal tersebut terdengar misterius, itu karena menulis adalah aktifitas yang kompleks. Saat kalian  berpikir tentang sebuah topik, kalian sudah memulai memilih kata-katanya dan menyusunnya menjadi kalimat—dengan kata lain, sekalian drafting. Saat kalian drafting (menyusun) dan saat itu pula kalian merevisinya, berpikir terus.

Mungkin itu saja, maaf saya bukan seorang penulis dan penerjemah profesional, jika ada kesalahan dalam segi penulisannya ataupun terjemahannya silahkan meluruskannya. Karena saya hanya seorang blogger yang mencoba saling berbagi referensi Bahasa Inggris yang saya miliki.



Referensi:

Kane, Thomas S. 2000. The Oxford Essential Guide to Writing. Oxford University Press.

No comments:

Post a Comment