Saturday, February 12, 2011

Nominal Sentence: Istilah Yang Salah?

Jika sebelumnya saya mengungkapkan bahwa Rumus 16 tenses Salah, maka sekarang saya ungkapkan satu lagi yang tidak kalah menarik dalam dunia pembelajaran Grammar di Indonesia, yaitu tentang kesalahan istilah Nominal Sentence. Saya sendiri sebenarnya sudah familiar dengan nama nominal sentence, namun ada kejanggalan ketika ada guru atau dosen menggunakan istilah tersebut. Kenapa saya merasa janggal? 

Nah di postingan kali ini saya akan menjelaskan sedikit kejanggalan-janggalan istilah nominal sentence tersebut. Terus terang saya tidak bermaksud untuk berdebat mengenai kesalahan istilah nominal sentence yang telah lama melekat pada pelajar dan bahkan mahasiswa, apalagi mengajak para nominal sentencer bertarung dalam sebuah ring, walah bisa remuk redam saya ini. Bagaimanapun juga, disini saya akan mencoba menjelaskan sedikit tentang sentence menurut pendapat ahli dalam masalah pembelajaran Grammar sebagai jalan tengah agar pembelajaran tentang Grammar tidak lagi dianggap sulit oleh beberapa kalangan. 

Namun jika ada yang bersedia mengomentarinya saya sangat senang sekali, mengingat ini demi kebaikan pembelajaran Grammar untuk kita semua. Mari kita awali dengan berandai-andai dulu, coba saja bayangkan jika Rumus Tenses yang konon dianggap ada 16 tersebut dibagi menjadi dua: Pertama, Rumus Verbal dan Kedua, Rumus Nominal; waduh berarti kita harus mempelajari 32 rumus tenses sekaligus dong. Sungguh suatu beban yang berat untuk pelajar atau mahasiswa yang sedang menempuh jalan cinta terhadap bidang bahasa.  Lalu benarkah tidak ada nominal sentence? 

Oke, untuk menganalisanya lebih baik kita awali dengan pembahasan pengertian sentence terlebih dahulu, Swan (1995:xxvii) menjelaskan sentence sebagai berikut:

“….A group of words that expresses a statement, command, question or exclamation. A sentence consists of one or more clauses, and usually has at least one subject and verb. In writing it begins with a capital letter and ends with a full stop, question mark or exclamation mark.”

Swan menerangkan bahwa sentence (kalimat) adalah kumpulan kata yang mengungkapkan tentan sebuah pernyataan, pertanyaan, perintah, ataupun seruan. Lebih lanjut, Swan menjelaskan bahwa sebuah kalimat terdiri dari satu klausa atau lebih, dan biasanya hanya memiliki satu subject dan satu verb. Dalam penulisannya, sebuah kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).

Penjelasan tersebut sama sekali tidak menyinggung baik itu verbal sentence ataupun nominal sentence. Mungkin itu salah satu pendapat  ahli grammar saja, masih banyak para ahli lainnya yang tidak mengungkapkan nominal sentence sebagai bagian dari jenis noun.

Lagi-lagi sebagai contoh buku yang sering saya jadikan referensi (ya karena itu mungkin satu-satunya buku yang saya punya, hehe), karya Michael Swan. Buku karangan Swan ini—yang menurut saya sebagai Kamus Grammar yang lumayan bagus—tidak pernah menjelaskan urgensi adanya istilah nominal sentence. Dan menurut saya, mengikut pendapat Marcella Frank, lebih baik  belajar tentang Parts of Spech terlebih dahulu dan hal tersebut lebih pantas dikedepankan sebagai bahan ajar yang lebih komprehensif dan mendetail daripada meributkan dan memperkeruh suasana belajar Grammar yang serba rumit selalu melulu mengenai tenses, conditional sentence, tag question yang benar-benar seperti belajar matematika selalu saja dihubungkan dengan rumus. Ingat loh di Inggris saja katanya tidak pernah menggunakan istilah nominal sentence, padahal mereka adalah sang empunya bahasa.

Lalu istilah nominal sentence berasal dari mana ya? 

Saya sendiri belum melakukan riset tentang hal tersebut, namun saya menduga itu akal-akalan para tenaga pengajar dan pendidik (guru atau dosen) yang mungkin kesulitan dalam menerangkan Grammar kepada para muridnya. Itu dugaan saya saja, meskipun saya bukan seorang guru bahasa Inggris, namun saya pernah menjadi seorang pelajar bahasa Inggris sehingga saya tahu kesulitan saya ketika memahami sebuah kalimat nominal dan verbal. Teman-teman saya yang jadi guru bahasa Inggrispun banyak bercerita tentang kesulitan tersebut sehingga wajar jika saya menduga demikian.

Lalu siapa yang harus disalahkan?

Jika kita boleh menyalahkan maka yang harus kita salahkan terlebih dahulu adalah Bahasa Inggris itu sendiri, nah loh? Jika tidak ada Bahasa Inggris tentu pembahasan tentang nominal sentence tidak pernah ada. Namun, apapun itu bentuknya, saya kira tidak etis menyalahkan siapa yang bersalah, kita tidak usah berdebat untuk menyalahkan guru, dosen atau murid dan mahasiswa. Semuanya sama-sama ikut serta dalam pengembangan ilmu bahasa. Tapi inti yang paling penting adalah Jangan Menyalahkan saya. Hehe..

No comments:

Post a Comment