Wednesday, February 9, 2011

Kata Mutiara tentang Writing

Menulis mungkin bagi para blogger jelas sebagai suatu kegiatan yang wajib dilakoni dengan tekun, meskipun rada melelahkan juga. Akan tetapi bagi beberapa kalangan, misalnya mahasiswa, pelajar, guru dan bahkan dosen sekalipun, ada saja yang tidak suka menulis dikarenakan berbagai hal. Namun begitu, ada juga yang mengatakan menulis itu mudah semudah meletakkan 10 jari diatas keyboard (seperti saya tuh..). 

Nah, kali ini saya akan memberikan informasi tentang kutipan-kutipan (kata-kata jimat) yang ada kaitannya dengan menulis, tulisan-tulisan ini semoga saja bisa mengurangi rasa malas kita terhadap hal-hal yang berbau pulpen, kertas, keybord, pensil, huruf, kata, frase, kalimat, paragraf dan semua yang berhubungan dengan tulis-menulis. Catatan-catatan ini saya ambil dari bukunya Fulwiler yang berisi tentang bagaimana menulis sebuah diari menjadi tulisan yang formal seperti skripsi dan disertasi. Tulisan-tulisan ini juga saya terjemahkan sedikit literal mengingat kata-katanya lebih pantas dengan terjemahan literal (bagi para professional translator dilarang protes). Oke mari kita lihat catatan dibawah ini, chekitot:

Pilihan seorang penulis

The reason, I think, I wait until the night before the paper is due, is that then I don’t have any choice and the problem goes away. I mean, I stop thinking about all the choices I could make, about where to start and what to say, and I just start writing. Sometimes it works, sometimes it doesn’t. (Sarah) p.1

“Saya pikir, alasan mengapa saya menunggu hingga tengah malam sebelum tulisan jadi tepat waktu adalah karena saya tidak memiliki pilihan apapun dan masalah hilang. Maksudnya, saya berhenti berpikir tentang pilihan-pilihan yang seharusnya saya pilih, tentang dimana harus memulainya dan apa yang harus dituliskan, dan saya hanya mulai menulis. Kadangkala hal tersebut berhasil, namun kadang juga tidak.”

Proses dalam Menulis

I start by writing down anything that comes to mind. I write the paper as one big mass, kind of like freewriting. Then I rewrite it into sentences. I keep rewriting it until it finally takes some form. (Brady)p.15

“Saya awali dengan menulis segala yang ada di kepala. Saya menulis sebuah karya tulis seperti tulisan  bebas. Lalu saya menuliskanya kembali menjadi kalimat. Saya terus menuliskannya lagi sampai akhirnya menjadi sebuah bentuk tulisan.”

If I have the time before I begin to write (which I usually don’t) I make an outline so I have something to follow. An outline kind of gives me a guide to fall back on in case I get stuck. (Jennifer)

Jika saya punya waktu sebelum saya mulai menulis (biasanya tidak) saya membuat sebuah outline sehingga saya memiliki sesuatu untuk diikuti. Sebuah outline memberiku petunjuk untuk kembali dari awal mula jika saya berhenti menulis.”

Then I start in the middle because it’s easier than trying to figure out where to start. The ending is easy because all you do is repeat what you just said. After the middle and the end, I try to write the beginning (Pat)

“Saya mulai di bagian tengah tulisan karena lebih mudah daripada mencoba menemukan dimana harus dimulai. Sebuah akhir tulisan terasa mudah karena semua yang kau tulis adalah mengulang apa yang baru saja kau katakan. Setelah bagian tengah dan akhir selesai, saya coba menulis bagian awalnya.”

Berpikir dengan Menulis

Writing feels very personal to me. I usually write when I’m under pressure or really bothered by something. Writing down these thoughts takes them out of my mind and puts them in a concrete form that I can look at. Once on paper, most of my thoughts make more sense & I can be more objective about them. Puts things into their true perspective. (Joan)p.25

“Bagi saya, menulis itu sangat personal. Saya biasanya menulis saat dalam keadaan tertekan atau dalam keadaan benar-benar terganggu oleh suatu hal. Mencatat  apa yang ada dalam pikiran membuat semua yang ada dalam otak saya hilang dan meletakannya dalam bentuk yang nyata sehingga saya bisa melihatnya. Saat sudah tertuang dalam kertas, kebanyakan pikiran-pikiran saya tersebut terlihat masuk akal dan saya dapat menilainya dengan lebih obyektif.”

Memanfaatkan Jurnal

Perhaps this journal will teach me as much about myself as it will about English. You know, I’ve never kept a journal or such before. I never knew what a pleasure it is to write. It is a type of cleansing—almost a washing of the mind . . . a concrete look at the workings of my own head. That is the idea I like most. The journal allows me to watch my thoughts develop yet, at the same time, it allows me a certain degree of hindsight. (Peter)p.41

Mungkin jurnal ini bisa mengajarkanku tentang dirikiu sendiri seperti Ia mengajarkanku tentang Bahasa Inggris. Saya tak pernah  mengoleksi jurnal sebelumnya. Saya tak pernah tahu apa senangya menulis. Ternyata jurnal seperti jenis pemurnian—hampir menjernihkan pikiran saya, suatu tampilan yang nyata saat otakku sedang bekerja. Inilah ide yang saya suka. Jurnal menuntunku untuk melihat apa pikiran saya sudah berkembang atau belum. Jurnal mengantarkanku ke tingkat observasi  tertentu.”

Menulis di lingkungan Akademik

I hate to write. My writing never says what I mean. I can see the idea in my head, but I can’t seem to express it in a way that others understand, so I don’t get good grades. Is there some secret I don’t know about? (David)p.55

“Saya benci menulis. Tulisanku tak pernah mengungkapkan apa yang saya maksud. Saya dapat mengetahui ide yang ada di kepalaku, tapi saya tak bisa mengungkapkannya dalam tulisan yang bisa dipahami orang lain, jadi saya tak mendapatkan nilai yang baik. Apa ada beberapa rahasia yang belum saya ketahui?”

Menulis itu mengingat dan merefleksikan

When I write a paper, I inevitably make it personal. I put myself into it and I write well. I’m paranoid when people criticize it because they tell me to make it more impersonal— to take me out of it. I’m afraid I can’t write unless I am in the paper somehow. . . . . . If someone says I should rewrite it, make it less informal, I’d die inside and give up. (Jody)p.64

“Saat saya menulis makalah, saya biasanya membuatnya seperti menulis diari. Saya menuliskannya dengan baik. Saya paranoid saat orang-orang mengkritik tulisan saya karena mereka menyuruhku menuliskannya dalam format makalah—untuk menyingkirkan saya. Saya takut saya tak bisa lagi menulis kecuali jika saya ada tugas membuat makalah. Jika seseorang menyuruhku untuk menuliskannya lagi, agar tidak terlalu informal, saya pasti tak akan lagi menulis.”

Menulis itu berpendapat dan menafsirkan

My teacher last year would always write in the margins of my papers What’s your thesis? Where’s your evidence? How can you prove that? So, now when I argue something, I Make readers believe me. I give them good reasons and lots of examples and they Do believe me—or at least I get better grades.
—Eric.p.98

Guru saya tahun lalu selalu menuliskan catatan di samping tulisan saya. “topik utamanya mana? Mana buktinya? Bagaimana kau membuktikannya?” jadi sekarang saat saya mempunyai pendapat tentang sesuatu, saya mencoba membuat pembaca percaya pada saya. Saya berikan alasan-alasan yang bagus dan memberikan banyak contoh dan ternyata mereka benar-benar percaya—atau setidaknya saya mendapatkan nilai yang lebih bagus.



Referensi

Fulwiler, Tobi. 2002. College Writing: A personal Approach to Academic Writing. Portsmouth: Boynton/Cook publishers, Inc.

No comments:

Post a Comment