Monday, January 10, 2011

Jenis-Jenis Terjemahan (Bagian 2)

Seperti diterangkan di bagian pertama, bahwa jenis-jenis terjemahan dari masa ke masa semakin lama semakin bervariasi, hal itu mungkin disebabkan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itulah pakar-pakar dalam bidang ini kemudian mengklasifikasikan terjemahan menurut pendapat mereka masing-masing, diantara pakar-pakar itu adalah Nord (dalam Munday, 2001:81-2) yang membedakan terjemahan menjadi dua tipe dasar yaitu:

1.  Documentary Translation; terjemahan dokumenter ini menghadirkan sebuah dokumen yang menghubungkan kultur bahasa sumber antara penerjemah dengan penerima, contohnya seperti literay translation (Terjemahan karya sastra), dimana Teks bahasa sasaran (Bsa, Hasil terjemahan) dapat mengungkapkan ide-ide ataupun makna Bahasa Sasaran (Bsa)
2.  Instrumental Translation; terjemahan instrumental ini menghadirkan penyaluran pesan yang bebas pada aktifitas komunikatif dari kultur bahasa sasaran. Terjemahan jenis ini biasanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi. Dengan kata lain, penerima Bsa membaca teks Bsu seolah-olah teks Bsu tersebut ditulis dalam bahasa mereka sendiri.

Pendapat lain diungkapkan oleh Larson (dikutip Choliludin 2007:22), ia mengatakan bahwa ada dua jenis terjemahan. Pertama, Form-based translation; terjemahan berdasarkan bentuk yang mencoba untuk mengikuti bentuk Bsu. Terjemahan ini dikenal sebagai literal translation. Sedang kedua adalah meaning-based translation; Terjemahan berdasarkan makna (meaning-based translation) yang berusaha untuk mengkomunikasikan makna Bsu kedalam bentuk yang natural Bsa, terjemahan ini dikenal sebagai Idiomatic Translation.Literal translation dianggap bukanlah suatu terjemahan yang baik karena masih banyak kerancuan dalam penyusunan bahasa sasaran. Sedangkan Idiomatic translation mempunyai arti bahwa penerjemahan menggunakan bentuk Bsa yang alami, baik dilihat dari bentuk susunan gramatikalnya maupun pilihan-pilihan istilah leksikalnya. 

Larson lalu menjelaskan bahwa jika dipraktekkan nyatanya menerjemahkan secara konsisten dengan idiomatic translation begitu sulit, jika tidak teliti terjemahan idiomatik tersebut bisa menjadi literal ataupun malah terjemahan bebas. Berikut tabel yang urutan hasil terjemahan oleh Larson:
 
Menurut Larson, terjemahan yang sangat bebas (unduly free translation) tidak bisa diterima sebagai terjemahan dengan alasan sebagai berikut:

  • Jika terjemahan menambahkan banyak informasi yang tidak ada dalam Bsu
  • Jika terjemahan merubah makna Bsu 
  • Jika terjemahan salah menafsirkan fakta-fakta latar belakang historis dan kultur teks Bsu


Referensi


Choliludin. 2007. The Technique of Making Idiomatic Translation. Jakarta: Visipro.
Munday, Jeremy. 2001. Introducing Translation Studies: Theory and Applications. London and New York: Routledge.

No comments:

Post a Comment